Tulisan kali ini bukan tulisanku
melainkan sebuah tulisan dari pacarnya adikku
yang juga merupakan teman gereja ku, clientku
dan ak sendiri yang menjadi mc pada waktu pesta sweet seventenannya
mamanya meninggal 5 tahun lalu
saat dia masih berumur 12 tahun
meninggal di hari yang sama dengan hari pernikahan kakak pertamanya
dan inilah ceritanya
aku masukkan di blog ku atas seijinnya
smoga tulisan dia dapat menjadi berkat dan menginsipirasi orang yang membacanya
Hargailah semua orang terdekat yang kita punya dan kita cinta
karena kita tidak tau kapan mereka akan pergi meninggalkan kita
salam penuh cinta
masih dalam rangkaian valentine's day :)
tulisan ini ditulis sekitar 12 jam sebelum tulisan ini dipost di blogku
dan sudah mendapat 40 likes dalam setengah hari
selamat membaca........
Kilasan cerita dibawah ini udah lumayan lama ditulis.. Sebenernya gak mau di publish, tapi beberapa hari ini rasanya aneh. Buat temen2 yang dateng ke sweet17 ku dan dateng awal, mungkin liat waktu aku nyayi Only Hope, dan tiba2 di akhir aku nangis nggak cetho. Ha5 (aku malu, men)
Waktu aku latihan, semuanya biasa2 aja.. aku juga nggak ngerti knapa tiba2 semuanya buyar kaya gitu.
Di awal lagu, yang kurasakan hanya nadanya yg kerendahan. Pertengahan, aku lupa lirik. Lalu di akhir , nggak ada angin nggak ada hujan, aku samasekali nggak bisa ngeluarin suaraku karena nangis. It's weird, right? IT IS. Aku tau mungkin itu sangat aneh.
Seorang om ku yang memang punya kekuatan lebih, sore tadi baru saja memberitahuku,” Kemarin itu mamah ada lho,La. Disebelahmu terus, ngrangkul kowe kayak gini , terus kamu nangis. Kerasa nggak?”
Apakah itu benar? Apakah itu make sense?
Ini adalah tulisanku yang sudah lama dibuat. Maaf kalau agak2 nggak jelas. :)
Apakah kamu menyayangi mamamu? Apakah kamu pernah merindukannya? Pernahkah kamu membayangkan, saat kamu benar- benar rindu pada mamamu, tapi yang kamu punya hanyalah foto untuk mengobati kerinduanmu? Dan kamu tau, kamu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi?
Tiba- tiba semuanya terlintas begitu saja. Cerita lama tentang 'dia yang kucinta'.
Malam ini aku pergi ke rumah tanteku bersama papa. Aku melewati alun- alun, dan melihat kerumunan orang disana. Aku melihat gerobak penjual makanan kesukaanku. Aku ingat......
Saat itu aku baru saja pulang dari sekaten. Jam 11 malam, Aku merengek minta kembali ke sana, dan membeli martabak manis di alun-alun. Di tengah keletihannya, 'dia yang kucinta' mau memberi apa yang kuinginkan itu. Aku ingat, saat makanan itu di hadapanku, aku menyia- nyiakan kerja kerasnya untukku. Menyisakannya untuk dibuang.
Aku ingat, saat dia menyeretku ke depan rumah agar aku mau pergi les. Agar aku bisa menjadi kebanggaannya. Agar aku : PINTAR.
Aku ingat saat 'dia yang kucinta' pergi, aku menangis sejadi-jadinya hanya karena tidak mau ditinggal dirumah.
Aku ingat saat 'dia yang kucinta' menarikku sampai ke Alpha English Course karena aku pura-pura sakit dan tidak mau les.
Aku ingat raut wajah bangganya saat aku memenangkan lomba- lomba modelling, saat aku menari, saat aku menyanyi. Hanya dia yang mengerti apa yang aku bisa. Dia yang membuatku seperti sekarang ini.
Saat ia kembali kerumah dengan membawa tas penuh baju- baju baru untukku, aku tau dia ingin SEMUA yang terbaik untukku
Aku ingat saat aku ingin membeli diary kecil di toko buku, dan ia tidak punya uang untuk membelikannya.
Aku ingat saat aku menemaninya bekerja sampai jam 2 pagi, dan dia sendiri yang menggendongku ke kamar.
Aku ingat, saat 'dia yang kucinta' marah, dan berkata, ” Besok nek Mama mati, njuk kamu kepiye?! Kamu harus bisa sendiri ! Kamu harus jadi orang.”
Aku ingat saat ia tiba- tiba sakit sehari sebelum pernikahan kakakku, saat ia masih bisa memikirkan resepsi pernikahan di tengah kesakitannya.
Aku ingat saat aku melihatnya untuk yang terakhir kalinya, dan aku tidak menyadarinya.
Aku ingat saat banyak orang menangis di gereja pada pemberkatan pernikahan, dan hanya aku yang tidak mengerti apa yang terjadi.
Aku ingat saat mereka BERGOSIP membicarakan kepergiannya
Aku ingat saat aku mencium pipinya yang sudah dingin dan rapuh
Aku sangat ingat, saat aku menari di resepsi pernikahan kakakku, aku memandang di kejauhan, berharap ada raut wajah bangga seorang Mama yang biasa kulihat. Tapi tidak, TIDAK ADA.
Aku ingat saat aku berusaha sekuat tenaga meyakinkan diriku sendiri: “Itu lho, Mama ada di sana, lagi liat Lala nari.....”.Dan yang ada dipikiranku hanyalah: “Mama pasti bangga di sana kalau Lala narinya bagus”
dan aku, melakukannya hingga sekarang.
By : Laura Priscilla Handayani
15 Feb 2010
0 komentar:
Poskan Komentar